
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
HATI adalah pusat kehidupan batin manusia. Ia laksana raja bagi seluruh anggota tubuh; jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Namun hati juga bisa rapuh, mudah terluka, dan jika tidak dijaga, ia dapat menjadi sumber sakit yang dalam. Dalam kehidupan, sering kali kita mendapati bahwa hati yang tidak berhati-hati akan disakiti oleh hati yang tidak berhati.
Hati dalam pandangan Islam bukan sekadar organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ยซุฃูููุง ููุฅูููู ููู ุงููุฌูุณูุฏู ู
ูุถูุบูุฉูุ ุฅูุฐูุง ุตูููุญูุชู ุตูููุญู ุงููุฌูุณูุฏู ูููููููุ ููุฅูุฐูุง ููุณูุฏูุชู ููุณูุฏู ุงููุฌูุณูุฏู ูููููููุ ุฃูููุง ูููููู ุงููููููุจูยป
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena begitu pentingnya, hati menjadi sasaran utama bisikan setan. Allah ๏ทป mengingatkan dalam Al-Qurโan:
๏ดฟุฅูููู ุงูุดููููุทูุงูู ููููู
ู ุนูุฏูููู ููุงุชููุฎูุฐูููู ุนูุฏููููุง ุฅููููู
ูุง ููุฏูุนูู ุญูุฒูุจููู ููููููููููุง ู
ููู ุฃูุตูุญูุงุจู ุงูุณููุนููุฑู๏ดพ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya dia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
Hati yang tidak berhati-hati adalah hati yang lalai. Lalai dari mengingat Allah, lalai dari menyaring perasaan, lalai dari menimbang setiap ucapan dan tindakan. Dalam keadaan lalai ini, hati mudah sekali terjerumus dalam iri, dengki, benci, atau cinta yang salah arah. Begitu hati kotor, ia akan menulari seluruh pikiran dan perilaku.
Orang yang hatinya tidak dijaga bisa menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah. Bahkan, ia merasa benar dalam kesalahannya. Inilah yang dimaksud bahwa hati yang tidak berhati-hati akan disakiti oleh hati yang tidak berhati. Ketika hati sudah mengeras, ia kehilangan rasa empati. Allah ๏ทป berfirman:
๏ดฟุซูู
ูู ููุณูุชู ูููููุจูููู
ู ู
ููู ุจูุนูุฏู ุฐููููู ูููููู ููุงููุญูุฌูุงุฑูุฉู ุฃููู ุฃูุดูุฏูู ููุณูููุฉู๏ดพ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah: 74)
Menjaga hati berarti menghidupkannya dengan dzikir, membersihkannya dengan istighfar, melembutkannya dengan doa, dan mengokohkannya dengan sabar. Rasulullah ๏ทบ mengajarkan doa yang begitu indah:
ยซููุง ู
ููููููุจู ุงูููููููุจูุ ุซูุจููุชู ููููุจูู ุนูููู ุฏููููููยป
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Dzikir bukan hanya ucapan tasbih, tahmid, dan takbir, tetapi menghadirkan Allah dalam kesadaran hati. Saat hati selalu terhubung dengan Allah, ia menjadi peka dan sulit untuk disusupi niat buruk.

Hati yang terjaga akan memiliki sifat rahmah (kasih sayang). Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ยซุงูุฑููุงุญูู
ูููู ููุฑูุญูู
ูููู
ู ุงูุฑููุญูู
ููฐููุ ุงุฑูุญูู
ููุง ู
ููู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ููุฑูุญูู
ูููู
ู ู
ููู ููู ุงูุณููู
ูุงุกูยป
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh Yang di langit.” (HR. Tirmidzi)
Kasih sayang itu tumbuh dari hati yang bersih, bukan hati yang penuh kebencian. Jika hati dipenuhi dendam, maka ia akan melahirkan keburukan, bahkan pada orang yang tidak bersalah.
Penting untuk memahami bahwa hati yang kuat bukan hati yang kebal dari rasa sakit, tetapi hati yang mampu mengelola rasa sakit tanpa membalas dengan keburukan. Allah ๏ทป berfirman:
๏ดฟููุงููููุงุธูู
ูููู ุงููุบูููุธู ููุงููุนูุงููููู ุนููู ุงููููุงุณู ููุงูููููู ููุญูุจูู ุงููู
ูุญูุณูููููู๏ดพ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan, tetapi memilih untuk tidak menambah luka dengan membalas. Dengan memaafkan, hati menjadi lebih ringan, tidak terikat oleh dendam yang menggerogoti jiwa.
Dalam perjalanan hidup, kita tidak bisa menghindari bertemu dengan orang yang hatinya tidak berhati. Namun kita bisa memilih bagaimana hati kita bereaksi. Menjaga hati berarti tidak memberi ruang bagi bisikan buruk untuk mempengaruhi tindakan.
Hati adalah amanah. Suatu saat nanti, Allah akan memeriksa isi hati kita. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ยซุฅูููู ุงูููููู ููุง ููููุธูุฑู ุฅูููู ุตูููุฑูููู
ู ููุฃูู
ูููุงููููู
ูุ ูููููููู ููููุธูุฑู ุฅูููู ูููููุจูููู
ู ููุฃูุนูู
ูุงููููู
ูยป
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka, berhati-hatilah dengan hati. Bersihkan ia setiap hari, rawat ia dengan doa, dan lindungi ia dari kotoran yang bisa mengeras. Karena hati yang terjaga akan menjadi sumber cahaya, sedangkan hati yang lalai akan menjadi sumber gelap. Dan ingatlah, hati yang tidak berhati-hati akan disakiti oleh hati yang tidak berhati.