
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
HIDUP ini tidak pernah lepas dari pasang surut. Ada saat-saat kita tersenyum karena kelimpahan nikmat, dan ada pula saat kita tertunduk karena ujian yang berat. Namun dalam setiap keadaan, Allah senantiasa hadir, memberikan kasih sayang dan pengampunan-Nya tanpa syarat, selama kita mau kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Ketika kamu sakit, mungkin tubuh terasa lemah dan dunia serasa sempit. Tapi justru di saat itulah, Allah sedang menghapus dosa-dosamu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya sekalipun, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karena itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saat kamu didzalimi, meski hati terasa remuk dan air mata mengalir diam-diam, yakinlah bahwa doamu menembus langit. Rasulullah ﷺ bersabda:
“اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا تَصْعَدُ إِلَى السَّمَاءِ كَأَنَّهَا شَرَارٌ”
“Takutlah terhadap doa orang yang didzalimi, karena ia naik ke langit seolah-olah seperti percikan api.” (HR. Al-Hakim)
Ketika kamu bersyukur, sekecil apapun nikmat yang kamu rasakan, maka nikmat itu akan Allah tambah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)
Saat kamu curhat dalam sujud, dalam diam, dalam tangis, dalam kata-kata yang tak sempat terucap Allah dengar. Tidak ada bisikan yang terlewat dari pendengaran-Nya.
إِنَّهُۥ سَمِيعٌۢ قَرِيبٌ
“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (QS. Saba: 50)
Saat kamu datang kepada-Nya, membawa luka, harapan, atau sekadar rindu, maka Allah menyambutmu. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“إِذَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ الْعَبْدُ شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا”
“Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta.” (HR. Bukhari)

Saat kamu meminta, jangan pernah ragu. Meskipun tak langsung dikabulkan, percayalah bahwa Allah tahu kapan waktu terbaik untuk mengabulkan. Dalam Al-Qur’an Allah berjanji:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’.” (QS. Ghafir: 60)
Ketika kamu bertobat, seberat apapun dosa yang kau bawa, Allah akan mengampuni. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah, selama kamu ikhlas kembali. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)
Dan bahkan, saat kamu tergelincir dalam dosa, tanpa seorang pun tahu, Allah tetap menutupi aibmu. Betapa besar kasih sayang-Nya, sehingga Dia tidak langsung menghukummu, tetapi memberimu kesempatan untuk sadar dan kembali. Rasulullah ﷺ bersabda:
“كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ”
“Seluruh umatku akan dimaafkan kecuali mereka yang terang-terangan berbuat dosa.” (HR. Bukhari)
Lalu, dengan segala kebaikan-Nya itu, bagaimana mungkin kita masih mengeluh, menyalahkan takdir, atau bahkan merasa jauh dari-Nya? Padahal kasih sayang Allah lebih dekat dari urat leher kita. Setiap hela napas, setiap detak jantung, setiap kesadaran yang hadir, adalah bukti cinta-Nya.
Ayat penutup dari Surah Ar-Rahman adalah pengingat yang mengguncang jiwa. Allah mengulanginya sebanyak 31 kali, seolah menyentuh relung hati kita agar tidak buta pada nikmat-Nya:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Jangan tunggu tua untuk sadar, jangan tunggu hancur untuk kembali, jangan tunggu kehilangan untuk menghargai. Ingatlah, dalam suka dan duka, Allah selalu ada. Maka jadikanlah Allah sebagai tempat bersandar, bukan hanya ketika susah, tetapi juga ketika lapang. Karena di situlah letak keikhlasan seorang hamba sejati.