
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
BERDOA adalah inti ibadah, tempat pengaduan terdalam seorang hamba kepada Rabbnya yang Mahasuci. Dalam Islam, konsep doa sangat agung. Ia tidak membutuhkan makelar spiritual, tidak memerlukan makhluk sebagai jembatan. Hubungan antara hamba dan Rabbnya bersifat langsung, tanpa sekat. Inilah kemuliaan Islam yang memuliakan manusia dengan hak doa langsung kepada Sang Pencipta, tanpa perlu campur tangan makhluk lain.
Islam adalah agama yang memurnikan tauhid. Dalam setiap ibadah, termasuk doa, Allah mengajarkan kita untuk menyampaikan segala hajat, kesedihan, harapan, dan dosa secara langsung kepadaNya. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang memerintahkan umat untuk menggunakan perantara dalam berdoa. Sebaliknya, justru larangan dan peringatan keras terhadap pencampuran tauhid dengan perantara yang tak memiliki kuasa.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah): sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Perhatikanlah bagaimana Allah langsung menjawab tanpa perantara kata “Qul” (katakanlah), sebagaimana lazim dalam ayat lain. Ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hambaNya. Ia tidak butuh penyambung lidah. Allah tidak menyuruh NabiNya menjadi juru bicara dalam doa. Bahkan dalam konteks paling sakral ibadah hamba diperintah langsung untuk menyapa Rabbnya.
Syaikh Shalih bin Fauzan alFauzan hafizhahullah mengatakan:
هل الله عز وجل بحاجة إلى أن يجعل بينه وبين العبد واسطة؟
“Apakah Allah ‘Azza wa Jalla membutuhkan perantara antara Dia dan hambaNya?”
الله جل وعلا قريب مجيب، يسمع ويرى، ويرحم ويقبل التوبة عن عباده، ولم يأمرنا باتخاذ الوسائط في الدعاء بل أمرنا بدعائه مباشرة
“Allah Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Dia mendengar dan melihat. Dia Maha Penyayang dan Maha Menerima tobat hambahambaNya. Allah tidak memerintahkan kita menggunakan perantara dalam berdoa, melainkan memerintahkan untuk langsung berdoa kepadaNya.”
Inilah pelajaran tauhid yang sangat dalam. Allah tidak perlu diberi tahu hajat kita oleh makhlukNya. Ia sudah tahu bahkan sebelum lidah kita mengucapkannya. Ia tahu luka di dada, air mata yang tak tertumpah, dan kegelisahan yang tak sempat dibisikkan kepada manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Jika doa adalah ibadah, maka tauhid dalam berdoa adalah syarat utama diterimanya doa tersebut. Seorang hamba yang menyelipkan nama orang salih, wali, atau bahkan malaikat sebagai perantara dalam doa, tanpa dalil, maka ia telah melukai makna tauhid yang murni.
Ada sebagian orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, tapi melalui orang yang lebih dekat kepadaNya.” Namun ini adalah bentuk syirik kecil yang bisa menggelincirkan kepada syirik besar. Sebab ia menyamakan Allah dengan raja dunia yang butuh ajudan untuk menyampaikan pesan.
Allah ﷻ berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.'” (QS. Ghafir: 60)

Perintah ini tegas, jelas, dan bersifat langsung. Allah sendiri yang menyuruh kita untuk berdoa langsung kepadaNya. Tidak ada satu pun syarat dalam ayat ini yang menyebutkan harus ada mediator, tokoh agama, wali, atau malaikat.
Adapun yang dijadikan dalih sebagian orang dari kisah sahabat meminta doa Nabi ﷺ semasa hidup, itu berbeda konteks. Para sahabat datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau masih hidup, memintanya untuk mendoakan, bukan menjadikannya perantara dalam doa kepada Allah. Bahkan setelah Rasulullah wafat, para sahabat tidak lagi meminta doa kepada beliau yang sudah wafat. Mereka berdoa sendiri kepada Allah, atau meminta doa kepada sahabat yang masih hidup.
Contoh nyata adalah ketika musim kekeringan melanda Madinah pasca wafatnya Rasulullah ﷺ, Umar bin Khattab tidak datang ke makam Nabi ﷺ untuk meminta hujan. Umar justru meminta kepada AlAbbas, paman Nabi ﷺ yang masih hidup, untuk berdoa kepada Allah. Umar berkata:
اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا
“Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami lalu Engkau turunkan hujan, sekarang kami bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.” (HR. AlBukhari)
Tawassul yang dimaksud di sini adalah dengan doa orang salih yang masih hidup, bukan menjadikannya perantara dalam berdoa.
Allah ﷻ juga berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Sesungguhnya orangorang yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (hamba) seperti kamu juga. Maka serulah mereka dan biarlah mereka memperkenankan permohonanmu jika kamu memang orangorang yang benar.” (QS. AlA’raf: 194)
Ayat ini mematahkan seluruh keyakinan tentang perlunya perantara dalam doa. Mereka yang dijadikan jembatan oleh sebagian umat—baik manusia, jin, atau malaikat—tak mampu menjawab permintaan, apalagi mengabulkan doa.
Seseorang mungkin merasa tidak layak untuk langsung berdoa kepada Allah karena merasa kotor oleh dosa. Namun justru karena kita berdosa, maka kita harus datang langsung kepada Allah. Bukankah Dia adalah Dzat yang Maha Pengampun?
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orangorang yang bertobat dan orangorang yang menyucikan diri.” (QS. AlBaqarah: 222)
Doa adalah tempat pulang. Ia bukan hanya permintaan, tapi pengakuan kelemahan. Maka jangan limpahkan kelemahanmu kepada makhluk yang juga lemah. Angkat tanganmu, dan berbicaralah langsung kepada Allah. Sebab Dia lebih dekat daripada urat lehermu.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Jangan letakkan dinding antara engkau dan Tuhanmu. Tidak dengan keraguan, tidak pula dengan perantara yang tak berwenang. Allah Maha Dekat, Maha Mendengar, dan Maha Menjawab. Maka sebutlah namaNya dalam keheningan, dalam tangisan, dalam harapan yang tak tahu arah. Dia akan menjawab, bukan karena siapa kita, tapi karena siapa Dia: Rabb Yang Mahakasih dan Mahasayang.
Semoga Allah tetapkan kita dalam kemurnian tauhid dan doa yang lurus, tanpa perantara, tanpa sekat. Sebab, Dia Maha Dekat, lebih dekat dari yang kita sangka.