
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
KITA sering menatap halaman orang lain lalu merasa rumput mereka selalu hijau, padahal dedaunan kita pun bisa rindang bila dirawELat sabar. Tulisan ini mengajak kita berdamai dengan ritme rezeki yang lambat, menguatkan tekad membahagiakan keluarga, dan bersandar pada janji Allah melalui ayat serta hadis yang menenteramkan sehingga hari esok tak diterka cemas, melainkan diraih dengan teguh, lapang, dan syukur mendalam.
Sebagian kegelisahan lahir dari ilusi perbandingan. Kita menyangka takaran rezeki dituang rata, padahal Al Qur’an menegaskan,
«اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ»
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (QS Ar Ra‘d 13:26).
Ayat ini menyapa relung hati: ukuran Allah selalu benar, kendati sering tak tertebak logika kita.
Karena itulah Nabi ﷺ memerintahkan bersyukur atas yang kita miliki sebelum iri pada yang kita tidak punya. Satu piring nasi yang kita antarkan kepada anak anak, meski tidak mewah, telah memuat pahala “makanan terbaik” bila diselimuti niat ikhlas.
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»
Amal hanyalah bergantung pada niat (HR Bukhari).
Harap kita pun bukan sekadar bertahan, melainkan melangkah. Allah menjanjikan:
«وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ»
Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak disangka sangka (QS At Talaq 65:2 3).
Takwa di sini berarti menjaga batas halal, menahan tangan dari yang haram, dan menyuburkan usaha walau perlahan.
Ketika langkah terasa berat, ingat sabda Rasul ﷺ:
«لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar benar tawakal, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung: pergi pagi lapar, pulang sore kenyang (HR Tirmidzi).
Burung tak berdiam di sarang menunggu; ia terbang meski jahitan sayapnya rapuh. Rahasianya: usaha digerakkan, hati diserahkan.
Doa yang antum panjatkan “Ya Allah, jika rezekiku tak semudah orang lain, lancarkan jalanku membahagiakan keluargaku, meski harus pelan asal senyum mereka tak hilang” senada dengan janji
«فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا»
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al Insyirah 94:5 6).
Allah tidak berkata ‘setelah’ tetapi ‘bersama’; artinya kemudahan itu lahir seiring, bukan tertunda.
Menafkahi keluarga adalah ibadah bernilai tinggi. Rasul ﷺ bersabda,
«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
Dinar yang paling besar pahalanya ialah yang engkau belanjakan untuk keluargamu (HR Muslim).
Maka setiap senyum mereka sesungguhnya bukti diterimanya amal kita.
Agar jalan pelan menjadi pasti, pertama: mulailah hari dengan syukur. Firman Nya,
«لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ»
Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah (QS Ibrahim 14:7).
Syukur bukan hanya di lisan melainkan menata hati agar melihat karunia pada setiap detik, bahkan ketika dompet tipis.
Kedua: jaga kesucian sumber penghasilan. Nabi ﷺ bersabda,
«إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا»
Sesungguhnya Allah Mahabaik dan hanya menerima yang baik (HR Muslim).
Pekerjaan halal mungkin berliku, tetapi keberkahan membuat hasilnya awet; layaknya air telaga yang sedikit namun jernih.
Ketiga: susun target realistis dan istiqamah. Ribuan kilometer ditempuh besi yang menggeserkan gunung karena konsisten satu milimeter setiap hari. Rasul ﷺ menegaskan,
«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meski sedikit (HR Bukhari).
Maka sisihkan rupiah kecil secara rutin; kelak ia menjelma pelangi di wajah anak anak.
Keempat: perbanyak istighfar. Nabi Nuh عليه السلام berkata kepada kaumnya,
«فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا • يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا»
Maka kataku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia mengirimkan hujan berkucuran (QS Nuh 71:10 11).
Istighfar membuka pintu langit, menurunkan rezeki seperti hujan menyirami tanah kering.
Kelima: pelihara silaturahim.
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim (HR Bukhari).
Telepon orang tua, sambangi sahabat lama; bisa jadi jalan rezeki berawal dari sapaan hangat.
Jangan menahan sedekah ketika dompet tipis. Allah berfirman,
«مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ»
Satu benih menumbuhkan tujuh bulir (QS 2:261).
Rupiah yang kita titipkan kepada yatim akan pulang berlipat, kadang dalam bentuk kesehatan terjaga, peluang kerja tak terduga, atau musibah yang disingkirkan.
Syukur Banyak bergaji tinggi tetap gelisah, petani sederhana tenang menatap sawah sambil berbisik hamdalah tulus. Syukur mengubah sedikit menjadi cukup dan cukup menjadi nikmat
Akhirnya, titipkan seluruh ikhtiar pada doa Nabi Dawud عليه السلام:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ»
Ya Allah, aku memohon cinta Mu, cinta orang yang mencintai Mu, dan amal yang menyampaikan aku kepada cinta Mu (HR Tirmidzi).
Bila tujuan kita adalah cinta Nya, maka setiap langkah, sepelan apa pun, sejatinya sudah sampai.
Semoga setiap helaan napas dalam mencari nafkah menjadi tasbih yang meringankan timbangan di hari bertemu Rabb. Dan semoga senyum keluarga kita tak hanya bertahan di dunia, tetapi bercahaya kembali di surga tempat rezeki tak bertepi, tanpa letih, tanpa air mata. آمِينَ
